KoranMalut.Co.Id - Polemik dugaan permintaan uang Rp10 juta kepada PT Intimkara kini semakin memanas. Persoalan tersebut tidak ...
KoranMalut.Co.Id - Polemik dugaan permintaan uang Rp10 juta kepada PT Intimkara kini semakin memanas. Persoalan tersebut tidak lagi hanya mempertanyakan siapa yang meminta dan untuk kepentingan apa uang itu, tetapi juga memunculkan dugaan adanya kerja sama antara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Morotai, Nurhayati, dan Ketua Satgas Morotai, Saiful Paturo, dalam mengembangkan isu yang kemudian menyeret nama wartawan.
Dugaan itu mencuat setelah Saiful Paturo menyebarkan sejumlah tangkapan layar percakapan yang dikaitkan dengan persoalan Rp10 juta, termasuk percakapan pribadi antara Nurhayati dengan seorang wartawan. Penyebaran tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai apa tujuan dan kepentingan di balik dibukanya percakapan pribadi tersebut ke ruang publik.
Padahal, percakapan Nurhayati dengan wartawan tersebut disebut berlangsung sekitar dua bulan sebelum isu Rp10 juta mencuat. Isi percakapan itu juga tidak menyebut PT Intimkara maupun nominal Rp10 juta.
Situasi ini kemudian memunculkan dugaan bahwa isu Rp10 juta sengaja diarahkan ke persoalan lain dengan membawa nama wartawan, sementara substansi utama mengenai dugaan permintaan uang justru belum mendapat penjelasan terang dari pihak DLH.
Sebelumnya, Saiful Paturo membagikan tangkapan layar yang memuat nominal Rp10.000.000 serta percakapan mengenai pihak yang disebut meminta uang. Dalam percakapan tersebut terdapat pesan, “Mksdnya bukti percakapan degn mereka yang minta duit pak,” kemudian disusul pesan yang telah dihapus.
Namun, tangkapan layar tersebut tidak memperlihatkan identitas pihak secara utuh.
Di tengah polemik itu, Manajer Lapangan PT Intimkara, Wandi, mengungkap bahwa dirinya pernah mendengar adanya permintaan uang dari pihak DLH kepada perusahaan.
“Memang DLH pernah minta uang ke Intimkara. Tapi kelanjutannya saya tidak tahu, apakah DLH bersama wartawan atau DLH sendiri.”
Wandi juga mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah permintaan yang pernah didengarnya tersebut berkaitan dengan nominal Rp10 juta.
Pernyataan itu semestinya menjadi titik penting bagi DLH untuk memberikan klarifikasi. Namun, ketika ditemui awak media di kantornya pada Rabu (19/8/2026), Nurhayati tidak memberikan penjelasan mengenai dugaan permintaan uang tersebut
Ia hanya menjawab singkat, “Saya tidak ada waktu.”
Nurhayati juga tidak memberikan penjelasan mengenai alasan percakapan pribadinya dengan wartawan ikut dibagikan ke sejumlah grup oleh Saiful Paturo.
Padahal, ada sejumlah pertanyaan mendasar yang membutuhkan jawaban: apakah DLH pernah meminta uang kepada PT Intimkara? Apakah benar nominalnya Rp10 juta? Siapa yang meminta? Untuk kepentingan apa? Dan apakah Saiful Paturo memperoleh percakapan pribadi tersebut dari Nurhayati?
Pertanyaan terakhir menjadi penting karena percakapan pribadi antara Nurhayati dengan wartawan kemudian ikut muncul di tengah polemik Rp10 juta.
Jika memang percakapan tersebut tidak berkaitan dengan persoalan Intimkara, mengapa percakapan itu dibawa ke ruang publik?
Di sinilah dugaan adanya kerja sama untuk menggiring opini dan menabur fitnah dengan membawa nama wartawan menjadi sorotan
Polemik yang seharusnya menjawab dugaan permintaan uang kepada perusahaan justru melebar ke percakapan pribadi wartawan yang tidak menyebut nominal Rp10 juta maupun PT Intimkara.
Kondisi tersebut menimbulkan kesan bahwa substansi persoalan Rp10 juta justru mulai bergeser. Alih-alih menjelaskan dugaan permintaan uang, perhatian publik diarahkan kepada percakapan pribadi dan nama wartawan.
Karena itu, Nurhayati dan Saiful Paturo perlu menjelaskan secara terbuka asal-usul tangkapan layar, tujuan penyebarannya, serta hubungan percakapan pribadi tersebut dengan dugaan uang Rp10 juta. (ret/tim)
Tidak ada komentar