KoranMalut.Co.Id— Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai terus memperkuat langkah penanganan dampak musim kemarau yang melanda sejumlah Desa, b...
Pasalnya melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, pemerintah daerah mendorong penguatan infrastruktur sumber air untuk mendukung keberlangsungan aktivitas pertanian masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan melalui program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang melekat pada Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi Maluku Utara.
Sebelumnya Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pulau Morotai, Tamhid Bilo, yang di konfirmasi media ini pada Jumat (02/10/2026) ia mengatakan program tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam membantu petani menghadapi keterbatasan sumber air, khususnya pada lahan persawahan yang selama ini belum mendapatkan aliran air yang memadai.
Upaya Konfirmasi media dilakukan untuk meminta penjelasan resmi kepada Plt kadis pertanian, karena sebelumnya sejumlah media telah memberitakan terkait dengan pemberitaan yang serupa.
Sementara itu Pemerintah daerah terus merespons kondisi yang dihadapi petani akibat musim kemarau. Salah satu langkah yang kita dorong adalah pemenuhan sumber air melalui program JIAT, terutama untuk lahan basah atau persawahan yang belum mendapatkan aliran air,” ujar Tamhid.
Menurutnya, saat ini terdapat 17 titik JIAT yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Pulau Morotai. Beberapa di antaranya berada di Cucumare, Aha, Sabatai Sabala dan Wewemo.
Program tersebut diharapkan dapat membantu menyediakan sumber air bagi kawasan pertanian sekaligus memperkuat ketahanan sektor pertanian masyarakat di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Kita berharap keberadaan JIAT ini bisa memberikan manfaat langsung kepada petani, terutama dalam memenuhi kebutuhan air untuk lahan pertanian. Ketersediaan air merupakan salah satu faktor penting agar petani tetap bisa berproduksi meskipun menghadapi musim kemarau,” jelasnya.
Selain lahan persawahan, Pemkab Morotai juga mulai mendorong dukungan terhadap petani hortikultura yang turut menghadapi persoalan ketersediaan air.
Tamhid mengatakan, kebutuhan infrastruktur air untuk petani hortikultura telah dimasukkan dalam usulan program kepada BWS untuk tahun mendatang.
“Untuk petani hortikultura, tahun depan sudah kami masukkan dalam pengusulan ke BWS. Mudah-mudahan usulan tersebut dapat diakomodasi sehingga kebutuhan air bagi petani hortikultura juga bisa kita jawab secara bertahap,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah juga terus melihat peluang dukungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Jika program tersebut dapat diakomodasi, maka pembangunan jalan tani dan sumur bor dapat menjadi bagian dari penguatan infrastruktur pertanian di Morotai.
“Kita juga berharap tahun depan sudah tersedia menu DAK yang bisa mendukung kebutuhan sektor pertanian. Dengan begitu, kita dapat mengusulkan pembangunan jalan tani maupun sumur bor untuk membantu petani, khususnya di wilayah yang memiliki keterbatasan akses dan sumber air,” ungkap Tamhid.
Meski demikian Tamhid juga menegaskan, penanganan dampak kemarau tidak hanya dilakukan ketika persoalan muncul, tetapi harus dibarengi dengan perencanaan infrastruktur pertanian yang lebih berkelanjutan.
Menurutnya, penyediaan sumber air, akses jalan tani hingga dukungan sarana produksi merupakan bagian yang saling berkaitan dalam menjaga produktivitas petani.
“Kita tidak ingin petani hanya mendapatkan bantuan ketika terjadi masalah. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun sistem pertanian yang lebih siap menghadapi musim kemarau dan kondisi cuaca yang berubah-ubah. Karena itu, kebutuhan infrastruktur seperti sumber air dan jalan tani terus kita dorong melalui perencanaan program pemerintah,” tegasnya.
Ia berharap berbagai program yang sedang dan akan diusulkan tersebut dapat memperkuat ketahanan sektor pertanian sekaligus memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa pemerintah daerah terus berupaya mencari solusi atas persoalan yang dihadapi petani.
“Pemerintah daerah akan terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Kita akan berupaya agar kebutuhan dasar petani, terutama air untuk pertanian, bisa mendapat perhatian dalam program pembangunan ke depan. Harapannya, petani Morotai tetap produktif dan sektor pertanian semakin kuat,” pungkas Tamhid.**(red/fhm)

Tidak ada komentar