Grid

GRID_STYLE

Breaking News

latest

Mitologi "Moro Manyawa" Sebuah Kisah Apik di Pulau Morotai

Arafik A Rahman KoranMalut.Co.Id - Cerita tentang 'Moro' sangat populer di Morotai, apalagi para anak muda yang terpelajar. Cerita ...

Arafik A Rahman

KoranMalut.Co.Id - Cerita tentang 'Moro' sangat populer di Morotai, apalagi para anak muda yang terpelajar. Cerita ini mengalir dari masa ke masa tanpa ada sekatan. Sebuah kisah yang masih bersifat 'Mistis' yang indah nan elok dan misterius ini, adalah bagian yang tak terpisahkan dari pontensi kepariwisataan bagi tamu mancanegara yang berkunjung ke pulau yang bertajuk "The pearl of Pasifik" mutiaranya Pasific. Tentu, cerita rakyat yang misterius ini harusnya dibongkar sampai ada objektivitasnya. Namun saya yakin cerita tentang Moro Manyawa hanyalah sebuah mitos belaka, sebab dari berbagi tulisan artikel, disertasi dan buku dari para sejarawan baik lokal atau internasional belum meninggalkan bukti objektif bahwa Moro Manyawa itu ada saat ini. Misal ada orangnya, kampung moro, atau karya seni lokal yang autentik bahwa itu hasil dari pikiran bangsa Moro itu sendiri.

Sekilas saya menelusuri berbagai referensi misalnya seorang penulis kebangsaan Portugis Francoise Valentijn dalam bukunya (Adnan Amal 2007, 26); bahwa asal mulanya suku Moro itu berasal dari beberapa warga yang memilih lari dari kekejaman, perpajakan dan penindasan yang di lakukan oleh kerajaan Jailolo pada tahun 1250-1534. Kerajaan itu basisnya Jailolo, Pornoti dan Gofasa dan ekspansi wilayahnya meliputi Maluku Utara setelah menaklukkan kerajaan Loloda. Lanjut cerita, Para pelarian tersebut kemudian tersebar dibeberapa tempat diantaranya; Ternate saat ini kita kenal Desa "Fora Madiahi" yang merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Ternate, Di kayoa yang saat ini kita kenal kerajaan bacan, di Moti yang mendirikan kerajaan Tidore dan di Halmahera Utara tepatnya di Mamuya yang merupakan cikal bakal berdirinya Halmahera Utara dan Morotai.

Kalau dari perspektif sejarah kerajaan Jailolo, maka kita dapat menemukan alur mobilitas manusia pada di kala itu. di Mamuya, ada terdapat dua komunitas yaitu Morodia dan Morodai. Sebagian masyarakat itu mengekplorasi lautan sehingga di kenal 'Canga', menjaga teritorial laut dan sekaligus sebagai nelayan. lalu dalam perjalanan ada yang menjadikan Morotai sebagi tempat peristirahatan, seiring waktu berjalan sebagian dari etnis Togale itu mendiami pulau Morotai. Entah mungkin karena kekayaan hayati lautnya, kesuburan tanahnya ataukah dikarenakan ada konflik di kerajaan Mamuya di Halmahera Utara. Mereka hidup di pulau nan indah ini yang meneteskan generasi hingga hari ini. Tetapi herannya, jika orang Morotai itu benar awalnya dari suku Moro.

Maka tentu mayoritas masyarakat saat ini pasti mempunyai kemampuannya yang gaib atau katakanlah bisa terbang dan menghilang. Tetapi faktanya masyarakat Morotai asli yang terbentang dari teluk wayabula hingga Sangowo dan bahkan Bere-bere ialah orang biasa yang bukan anak cucu Moro tersebut (orang gaib). Sepanjang penelusuran tulisan yang ada di berbagai referensi, ternyata belum ada konektivitas yang rasional bagi saya. Tentu ini bukan hal yang mudah jika kita berbicara soal "Moro Manyawa" Manusia Moro atau orang yang gaib itu. Misteri ini sangatlah apik yang mengundang etos pikir yang harusnya lebih detil dalam membongkarnya. Tapak-tapak sejarah di abad 13, 16 , 17 sampai 18 ternyata belum cukup untuk membongkarnya. Saya pun terpikir jangan-jangan ini ada hubungannya dengan efek dari peperangan dasyat antara Sekutu vs Jepang di tahun 1944-1945.

Sebab, dalam biografi peperangan “Battle of Morotai” sebuah tragedi yang begitu pilu bagi negara yang berjulukan matahari terbit itu. Kekalahan Jepang atas Amerika serikat dan sekutunya itu berakhir tanpa syarat, yang ditandai dengan hancurnya Hirosima dan Nagasaki 6-9 Agustus 1945. Dari 600 tentara Jepang yang dihantam habis habisan oleh sekutu, tersisa 40 tentara yang melarikan diri ke hutan. Peperangan awalnya di pantai Wawama dan Juanga. Kemudian dipukul mundur oleh sekutu sampai ke puncak 'hill 40" saat ini di kenal desa Nakamura.

Perang tersebut memakan banyak korban baik dari Jepang maupun sekutu. pertempuran di mulai pada tanggal 15 September 1944 sampai 09 Agustus 1945. sekutu dengan kekuatan super power 83 batalion (kurang lebih 6000 personil) dari tiga angkatan perang laut, darat dan udara. Sedangkan Jepang hanya satu batalion (kurang lebih 600 orang). Serpihan peperangan dasyat itu, masih terlihat di pulau Morotai hingga kini. Setelah Jepang dinyatakan kalah pada tanggal 16 Agustus sekutu kemudian melakukan pembersihan dan mereka kembali ke Eropa. Ternyata 40 tentara Jepang tak kunjung keluar, karena mereka pikir peperangan itu belum usai. Kurang lebih 30 tahun mereka melalang buana di hutan Morotai dan keluar di tahun 1975 yang salah satunya bernama Teuro Nakamura. Para tentara Jepang itu terlatih dengan kecepatan menghilang, berlari, dan berkamuflase dengan alam. Bisa jadi karena ketakutan ketika melihat masyarakat, lalu menghilang sekejap mata yang membuat warga lokal pun terkaget. Kemudian banyak arwah gentayangan yang ada saat itu, sebab banyak pasukan dari kedua pihak yang mati secara tragis dalam peperangan. Lalu arwah-arwah itu menghantui para petani, Akhirnya, warga lokal sekitar "desa pilowo, Wawama, Gotalamo, Joubela dan lain-lain. Saat mereka melihat orang yang tampan parasnya di hutan tetapi tiba-tiba menghilang padahal mereka adalah bagian dari 40 tentara Jepang yang bertahan hidup di hutan Morotai. 

Nah, dari peristiwa yang sering terjadi ini, akhirnya warga menceritakan di kampung setelah dari kebun. Cerita-cerita ini banyak terjadi di erah 70an, sampai 90an. Banyak tetua di desa yang bercerita tentang kampung Moro, orang Moro, dan seterusnya. Terkadang cerita dalam bentuk orang menghilang atau dari hewan liar yang ditemukan, bahwa itu orang Moro jangan dibunuh dan seterusnya pula.

Dari cerita para tetua "orang Morotai" itulah saya teringat sebuah kisah mitologi Cina oleh Hegar Valdmar Revaldo dalam bukunya "Mitologi dunia" bahwa di masa kejayaan kaisar Wu di era dinasti Han; ada mitos tentang dewa "Lu Ban" sosok itu diyakini sebagai seorang dewa. Padahal ia hanyalah soerang Manusia biasa yang keahliannya sebagai arsitektur sekaligus pekerja lapangan. Sosok Lu Ban begitu masif tersohor di Cina saat itu mulai dari konglomerat sampai rakyat jelata. Maha karyanya adalah keindahan jembatan Zhaozhuo di Tiongkok dan bahkan dipercaya ia dapat membuat sekor burung bangau putih yang dapat terbang sejauh 500 M. Begitulah kira-kira kemiripan mitologi Cina dengan cerita Moro di Morotai. Tatapi, itupun belum membuat benak saya terlepas dari pertanyaan apa benar orang Moro itu ada?? Saya pun mulai terpikir beberapa teman-teman hebat di pulau Morotai, untuk mengalih sedikit pendapat tentang orang Moro ini.**.

Tidak ada komentar