TERNATE, Koranmalut.Com, - Komite Gerakan Mahasiswa Pemerhati Sosial Maluku Utara (Gamhas-Mu) Abdul Hadi, angkat bicara soal nama baik Or...
Organisasi Gamhas sendiri telah mengagendakan seraya melakukan pertemuan Minggu (22/04), namun hal itu tidak direspon sama sekali pihak yang berkaitan.
" Mestinya pertemuan formal yang dianggedakan diwaktu Minggu, telah membawa harapan perdamaian, namun sejauh ini, tidak ada yang merespon soal persoalan itu," kata Abdul kepada median ini dalam sebuah pertemuan di Istana Cafe, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah, Kota Ternate. Selasa (24/04).
Abdul menjelaskan, secara Institusi, Pihaknya menilai perkataan itu telah melanggar kode etik organisasi, karena jika dewasa dalam organisasi mestinya kata sektarian dan "Taik" tidak perlu melintang di publik.
" Sebagai kaum intelektual haruslah problem demikian diarahkan dalam wacana ilmiah agar mempertemukan kesalahpahaman antara sesama. Namun informasi pertemuan tidak digubris serta pertengkaran media sosial terus berlanjut, " katanya
Lanjut Abdul menjelaskan, pemicunya bermula saat mereka sama-sama dalam Fron Serikat Petani Galela (SPG) waktu itu, yang didalamnya ada beberapa organisasi termasuk Gamhas dan Pembebasan. " Menjelang aksi 15 hari pemboikotan, Gamhas dan serikat mahasiswa Indonesia (SMI) keluar dari front, namun front SPG tidak
melayangkan surat untuk memastikan alasan organisasi keluar dari gabungan alat perjuangan tersebut dan malah mereka menyebarkan hoax saat Gamhas sektor Unipas melakukan aksi dan mencoba mempublikasikannya di media sosial, " Terang Abdul
" Ketika saat itu Gamhas sedang menggelar aksi di kantor DPRD kabupaten Pulau Morotai dengan tuntutan kenaikan harga kopra kemudian sesudah itu, Akun Facebook dengan nama Che KarlZain Kaders Pembebasan ini, menyebarkan kata-katanya dengan sebutan "sekterianisme, pemerhati sosialnya kok sempit", dan lain sebagainya, tentunya ini menimbulkan ketersinggungan secara konstitusi organisasi Gamhas, " Tutupnya. (Ial)
