Oleh: Hasfian Hasyim, Wakil Sekretaris PP Partai Golkar Provinsi Maluku Utara KoranMalut.Co.Id - Musyawarah Daerah Partai Golkar Ko...
Karena itu, pembicaraan mengenai calon Ketua DPD PartaiGolkar Kota Ternate harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar daripada sekadar siapa yang paling senior, siapayang paling lama berada di dalam struktur, atau siapa yang memiliki jaringan paling luas.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: kepemimpinanseperti apa yang dibutuhkan Golkar Kota Ternate untukmenghadapi perubahan politik dan sosial beberapa tahunke depan?
Menurut saya, salah satu jawabannya adalah kepemimpinanyang mampu menghubungkan pengalaman generasi senior dengan energi, gagasan, dan aspirasi generasi muda.
Dalam konteks itulah muncul nama Ardian Idhan sebagaisalah satu kader yang perlu diperhitungkan dalam dinamikaMusda Golkar Kota Ternate.
Regenerasi Bukan Pergantian Generasi Semata
Regenerasi dalam organisasi politik tidak berartimenyingkirkan generasi sebelumnya.
Sebaliknya, regenerasi harus dipahami sebagai proses meneruskan pengalaman, nilai, jaringan, dan tradisi organisasikepada kepemimpinan yang mampu menjawab tantanganbaru.
Golkar memiliki sejarah panjang dalam politik Indonesia. Karena itu, kekuatan Golkar tidak boleh hanya bertumpu pada pengalaman masa lalu. Pengalaman harus menjadi modal untuk membaca masa depan.
Kota Ternate juga mengalami perubahan.
Komposisi masyarakat berubah. Teknologi komunikasiberkembang sangat cepat. Anak muda semakin aktif dalamruang sosial, ekonomi, digital, kebudayaan, dan politik. Aspirasi mereka tidak lagi dapat dibaca hanya melaluipendekatan politik konvensional.
Partai politik yang ingin tetap relevan harus mampu hadir di ruang tersebut.
Di sinilah regenerasi kepemimpinan menjadi penting.
Ardian Idhan dan Ruang Kepemimpinan Baru
Ardian Idhan hadir dalam dinamika pencalonan Ketua DPD Partai Golkar Kota Ternate sebagai bagian dari proses regenerasi.
Yang perlu dilihat bukan semata-mata usia atau lamanyaseseorang berada dalam struktur partai. Yang harus dinilaiadalah kapasitasnya untuk menjalankan organisasi, membangun komunikasi, mengonsolidasikan kader, sertamenerjemahkan perubahan sosial menjadi agenda politikorganisasi.
Dalam ukuran tersebut, Ardian Idhan memiliki satu modal yang penting: keberaniannya memasuki ruang kompetisikepemimpinan pada saat organisasi membutuhkan pembacaanbaru terhadap masa depan.
Namun, keberanian saja tidak cukup.
Seorang ketua DPD harus mampu bekerja dengan seluruhunsur organisasi. Ia harus mampu berdialog dengan senior, membuka ruang bagi kader muda, membangun komunikasidengan struktur di tingkat bawah, serta memastikan bahwakeputusan organisasi tidak berhenti pada forum rapat, tetapiditerjemahkan menjadi kerja nyata.
Kepemimpinan politik pada akhirnya bukan persoalan siapayang paling banyak berbicara.
Kepemimpinan adalah kemampuan mendengar, menyatukan, memutuskan, dan bekerja.
Membawa Suara Anak Muda Ternate ke Pentas yang Lebih Tinggi
Ada satu agenda yang menurut saya harus menjadi perhatianserius Golkar Kota Ternate: bagaimana membawa suara anakmuda Ternate dari ruang lokal menuju ruang yang lebihtinggi.
Anak muda Ternate tidak kekurangan gagasan.
Mereka bergerak dalam berbagai bidang: kewirausahaan, ekonomi kreatif, teknologi, pendidikan, kebudayaan, olahraga, lingkungan, industri kreatif, dan berbagai aktivitas sosial.
Yang sering menjadi persoalan adalah bagaimana gagasantersebut mendapatkan saluran politik yang efektif.
Partai politik harus menjadi jembatan.
Karena itu, kepemimpinan Golkar Kota Ternate ke depanperlu membangun mekanisme yang memungkinkan aspirasianak muda tidak sekadar digunakan sebagai basis dukunganpolitik, tetapi benar-benar menjadi bagian dari proses perumusan agenda partai.
Jika anak muda hanya hadir ketika kampanye, maka partaikehilangan kesempatan untuk memahami generasi yang akanmenentukan wajah politik Ternate di masa depan.
Sebaliknya, jika anak muda diberikan ruang untuk berpikir, berdiskusi, berorganisasi, dan mengambil tanggung jawab, maka partai sedang membangun investasi politik jangkapanjang.
Dari Konsolidasi Menuju Kerja Organisasi
Tantangan berikutnya adalah konsolidasi.
Konsolidasi tidak boleh dimaknai hanya sebagaimengumpulkan struktur dan kader menjelang Musda atauPemilu.
Konsolidasi yang sehat harus berlangsung terus-menerus.
DPD harus memiliki komunikasi yang baik dengan seluruhtingkatan organisasi. Kader harus mengetahui arah perjuanganpartai. Struktur harus memiliki target kerja yang jelas. Program harus dapat dievaluasi. Dan setiap kader harusmerasa memiliki ruang untuk berkontribusi.
Ketua DPD bukan hanya simbol organisasi.
Ketua harus menjadi penghubung antara gagasan dan pelaksanaan.
Karena itu, siapa pun yang nantinya dipercaya memimpinGolkar Kota Ternate harus mampu membangun organisasiyang lebih terbuka, disiplin, komunikatif, dan terukur.
Senioritas dan Regenerasi Harus Berjalan Bersama
Saya tidak melihat senioritas dan regenerasi sebagai dua halyang harus dipertentangkan.
Senior memiliki pengalaman.
Generasi baru membawa energi dan perspektif baru.
Partai yang kuat adalah partai yang mampu mempertemukankeduanya.
Karena itu, munculnya Ardian Idhan dalam bursa kepemimpinan tidak semestinya dibaca sebagai pertentanganantara generasi muda dan generasi senior.
Justru sebaliknya, momentum seperti Musda harus menjadiruang untuk membangun kesinambungan.
Senior tetap memiliki posisi penting sebagai sumberpengalaman dan pengetahuan organisasi. Sementara kader-kader yang lebih muda harus diberikan kesempatan untukmengambil tanggung jawab yang lebih besar.
Inilah hakikat regenerasi.
Bukan mengganti yang lama dengan yang baru, tetapimembuat organisasi tetap hidup karena mampumelahirkan kepemimpinan berikutnya.
Tantangan Politik ke Depan
Golkar Kota Ternate tidak dapat melihat Musda hanya sebagaipersoalan internal.
Di depan terdapat agenda politik nasional dan daerah yang membutuhkan organisasi yang solid, kader yang bekerja, sertakepemimpinan yang memiliki orientasi jangka panjang.
Pemilu 2029 akan menjadi ujian penting bagi seluruhkekuatan politik.
Karena itu, pekerjaan rumah setelah Musda sebenarnya jauhlebih besar daripada proses pemilihan ketua itu sendiri.
Siapa pun yang memimpin harus segera menjawab beberapapertanyaan mendasar:
Bagaimana memperkuat struktur organisasi?
Bagaimana meningkatkan kualitas kader?
Bagaimana memperluas partisipasi generasi muda?
Bagaimana membangun komunikasi politik yang sehatdengan masyarakat?
Bagaimana menjadikan Golkar sebagai organisasi yang hadirdi tengah persoalan masyarakat, bukan hanya ketika pemiluberlangsung?
Dan yang tidak kalah penting, bagaimana menjadikan Kota Ternate sebagai salah satu pusat kekuatan politik dan gagasananak muda Maluku Utara?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan kepemimpinanyang bekerja secara sistematis.
Ardian Idhan dan Ekspektasi terhadap Regenerasi
Jika Ardian Idhan memperoleh kepercayaan untuk memimpinDPD Partai Golkar Kota Ternate, maka tantangannya tidakringan.
Ia tidak cukup hanya menjadi simbol regenerasi.
Ia harus membuktikan bahwa regenerasi dapat menghasilkanorganisasi yang lebih kuat.
Ia harus mampu membangun komunikasi lintas generasi, menjaga hubungan dengan para senior, memperluas ruangkaderisasi, memperkuat struktur, dan membawa isu-isustrategis masyarakat Ternate ke dalam agenda politik Golkar.
Terutama suara generasi muda.
Sebab masa depan Ternate tidak hanya ditentukan oleh mereka yang telah lama berada dalam politik, tetapi juga oleh generasi yang hari ini sedang tumbuh dan kelak akanmengambil alih tanggung jawab sosial, ekonomi, dan politikkota ini.
Karena itu, kepemimpinan baru harus memiliki keberanianuntuk membuka pintu tersebut.
Bukan dengan memutus masa lalu.
Tetapi dengan menjadikan pengalaman masa lalu sebagaifondasi untuk melangkah lebih jauh.
Musda Harus Menghasilkan Agenda, Bukan SekadarPemenang
Pada akhirnya, Musda Golkar Kota Ternate tidak boleh hanyamenghasilkan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Musda harus menghasilkan arah baru.
Kompetisi dalam organisasi adalah bagian dari demokrasiinternal. Perbedaan pilihan adalah sesuatu yang wajar. Tetapi setelah keputusan organisasi ditetapkan, seluruh kader haruskembali pada kepentingan yang lebih besar: memperkuatPartai Golkar.
Karena itu, siapa pun yang memperoleh amanah harus mampumerangkul seluruh kekuatan yang ada.
Kepemimpinan yang baik bukan hanya kemampuanmemenangkan sebuah forum.
Kepemimpinan yang sesungguhnya adalah kemampuanmembuat mereka yang berbeda pilihan tetap merasamenjadi bagian dari organisasi yang sama.
Dalam konteks regenerasi, Ardian Idhan dapat dipandangsebagai bagian dari proses tersebut.
Bukan karena ia harus ditempatkan sebagai antitesis darigenerasi sebelumnya.
Bukan pula karena senioritas kehilangan arti.
Tetapi karena organisasi politik membutuhkan keberanianuntuk membuka ruang bagi kader yang lebih mudamengambil tanggung jawab yang lebih besar.
Penutup
Golkar Kota Ternate membutuhkan kesinambungan sekaliguspembaruan.
Pengalaman harus tetap dihormati.
Regenerasi harus diberikan ruang.
Anak muda harus diberi kesempatan.
Dan kepemimpinan harus diukur dari kemampuan bekerjauntuk organisasi, bukan hanya dari kemampuanmemenangkan pertarungan politik.
Bagi saya, pertanyaan paling penting dalam Musda bukansekadar siapa yang menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kota Ternate, tetapi kepemimpinan seperti apa yang sanggup membawa organisasi ini menghadapi sepuluhtahun politik ke depan.
Kota Ternate memiliki sejarah, karakter, dan potensi yang besar.
Anak mudanya memiliki suara.
Tugas partai adalah memastikan suara itu tidak berhenti di jalan-jalan kota, ruang-ruang diskusi, atau media sosial.
Suara itu harus memiliki jalan menuju ruang pengambilankeputusan.
Dan di situlah makna strategis regenerasi kepemimpinanGolkar Kota Ternate: membuka jalan dari Ternate menujupanggung politik yang lebih tinggi, tanpa kehilangan akar, tanpa memutus sejarah, dan tanpa meninggalkan generasiyang telah membangun organisasi.
Hasfian Hasyim
Wakil Sekretaris PP Partai Golkar Provinsi Maluku Utara

Tidak ada komentar