Grid

GRID_STYLE

Breaking News

latest

Kacamata Anak Pesisir Melihat Nelayan Pukat Cincin di Desa Momole dan Desa Kasuba

KoranMalut.Co.Id - Dibalik angka-angka statistik produksi perikanan Halmahera Timur yang katanya mencapai miliaran rupiah, ada kenyataan pah...

KoranMalut.Co.Id - Dibalik angka-angka statistik produksi perikanan Halmahera Timur yang katanya mencapai miliaran rupiah, ada kenyataan pahit yang tersembunyi di Desa Momole dan Desa Kasuba Kec Maba Selatan. Sebagai seorang putra daerah, saya menemukan sebuah ironi: nelayan kita adalah pahlawan ekonomi, tapi mereka seolah menjadi "anak tiri" di rumah sendiri.

Ada sekitar 15 armada tangkap pukat cincin di kedua desa ini yang nasibnya sedang di ambang kebingungan. Mereka melaut bukan sekadar mencari ikan, tapi menjaga tradisi yang diwariskan turun-temurun dari orang tua mereka. Sayangnya, hingga hari ini, jeritan dan kebutuhan mereka tak kunjung mendapat respon dari Pemerintah Daerah atau Dinas terkait.

Masalah utama yang saya temukan adalah masalah pendidikan. Mayoritas nelayan kita di Desa Momole dan Kasuba lulusan SD bahkan sebagian mereka tidak berpendidikan. Mereka ahli membaca arus laut dan arah angin, tapi mereka "buta" akan rumitnya urusan administrasi bantuan pemerintah.

Pemerintah seringkali menuntut syarat kertas, proposal, dan dokumen digital yang mustahil ditembus oleh nelayan tradisional tanpa pendampingan. Akibatnya, bantuan mesin, alat tangkap, atau subsidi BBM seringkali salah sasaran atau tidak pernah sampai ke tangan para nelayan yang benar-benar bekerja di garis depan ini.

Secara sosiologis, ini adalah bentuk pembiaran. Kita membiarkan mereka yang terbatas ilmunya berjuang sendirian melawan mahalnya biaya operasional, Padahal kontribusi mereka Pemerintah Daerah tidak boleh hanya duduk manis menunggu nelayan datang membawa proposal yang rapi. Dinas Perikanan harus "turun gunung" ke Momole dan Kasuba. Temui mereka, dengarkan kendalanya, dan bantu administrasinya secara langsung.

Pemerintah Daerah tidak boleh hanya duduk manis menunggu nelayan datang membawa proposal yang rapi. Dinas Perikanan harus "turun gunung" ke Momole dan Kasuba. Temui mereka, dengarkan kendalanya, dan bantu administrasinya secara langsung.  

Ikan yang kita makan setiap hari adalah hasil keringat mereka yang sekolahnya tidak tinggi, tapi jasanya luar biasa besar. Jangan sampai tradisi pukat cincin yang menjadi identitas kita hilang hanya karena pemerintah lupa hadir di pesisir Maba Selatan.

Sudah saatnya kita berhenti melihat nelayan hanya sebagai angka statistik, dan mulai melihat mereka sebagai manusia yang berhak atas keadilan dan kesejahteraan.**()

Tidak ada komentar