KoranMalut.Co.Id - Halmahera Selatan, xx Maret 2026 - Provinsi Maluku Utara berada di kawasan dengan tingkat risiko bencana yang tinggi. Let...
KoranMalut.Co.Id - Halmahera Selatan, xx Maret 2026 - Provinsi Maluku Utara berada di kawasan dengan tingkat risiko bencana yang tinggi. Letaknya di jalur cincin api Pasifik menjadikan wilayah ini rentan terhadap gempa bumi, tsunami, serta aktivitas gunung api aktif seperti Gunung Gamalama, Gunung Ibu, Gamkonora, Dukono, dan Gunung Kie Besi. Di saat yang sama, intensitas hujan ekstrem turut meningkatkan potensi banjir dan tanah longsor.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 76 kejadian bencana hidrometeorologi terjadi di 48 kecamatan di Maluku Utara sepanjang semester I 2025, dengan Kabupaten Halmahera Selatan sebagai wilayah terdampak terbanyak. Kondisi ini menegaskan satu hal: kesiapsiagaan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan struktural bagi seluruh pemangku kepentingan yang beroperasi di wilayah ini.
Kabupaten Halmahera Selatan menjadi wilayah yang paling sering terdampak dengan total 19 kejadian. Kepala BNPB Halmahera Selatan, Suharyanto, menekankan di balik keindahannya, Maluku Utara memiliki risiko bencana yang tinggi. Ia menegaskan seluruh pemangku kepentingan harus senantiasa siap siaga tanpa menunggu jatuhnya korban baru bertindak.
Membangun Sistem, Bukan Sekadar Program
Menyadari tantangan besar tersebut, Harita Nickel mengambil langkah proaktif dengan menjadikan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama dalam strategi keberlanjutan perusahaan. Harita Nickel menjalin kemitraan strategis dengan akademisi dari Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI) untuk memetakan potensi bahaya secara akurat. Ketua DRRC UI, Prof. Dra. Fatma Lestari, M.Si, Ph.D, menjelaskan pengelolaan bencana merupakan elemen vital bagi industri tambang di wilayah rawan.
"Pengelolaan bencana merupakan bagian dari implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Melalui kajian mendalam, Desa Kawasi di Pulau Obi pun teridentifikasi memiliki kerentanan spesifik terhadap ancaman gempa bumi, angin kencang, ombak besar, hingga risiko tsunami,” jelasnya.
Harita Nickel merespons kajian tersebut dengan meluncurkan program Pelatihan Siaga Bencana. Occupational Health and Safety (OHS) Manager Harita Nickel, Supriyanto Suwarno, menjelaskan inisiatif ini adalah wujud tanggung jawab sosial perusahaan melalui penegakan standar Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan Hidup (K3LH).
Ia menuturkan komitmen tersebut turut mencakup keselamatan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Puncaknya pada Desember 2025, perusahaan menggelar Pelatihan Tanggap Bencana secara intensif di Desa Kawasi dengan melibatkan 51 warga dalam simulasi yang dirancang menyerupai kondisi nyata, termasuk teknik pemadaman api dini dan prosedur evakuasi mandiri.
“Dalam kegiatan ini pula dibentuk Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) sebagai garda terdepan penanganan situasi darurat,” ujar Supriyanto.**(red).

Tidak ada komentar