Grid

GRID_STYLE

Breaking News

latest

Berkaca dari Perang di Eropa dan Timur Tengah Indonesia Harus Memiliki Tentara dan Polisi Teknokrat

Amanah Upara: Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Sula Fraksi Partai Golkar  KoranMalut.Co.Id - Indonesia negara terbesar ke-15 di dunia berda...

Amanah Upara: Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Sula Fraksi Partai Golkar 
KoranMalut.Co.Id - Indonesia negara terbesar ke-15 di dunia berdasarkan luas wilayah total (sekitar 1,9 juta km), dan negara terbesar ke-4 di dunia berdasarkan jumlah penduduk (lebih dari 279 juta jiwa pada 2024). Sebagai negara kepulauan, Indonesia menempati peringkat teratas di Asia Tenggara. Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang berlimpah baik mas, nikel, minyak, batu bara, gas, semen, dll. Sebagai negara terbesar dan  kekayaan alam yang berlimpah ini menjadi modal politik dan ekonomi bagi Indonesia tetapi juga menjadi ancaman bagi Indonesia jika kita tidak memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dan alutsista pertahanan keamanan negara yang canggih kita akan terancam dari negara-negara yang memiliki alutsista pertahanan keamanan yang canggih seperti Amerika, Uni Eropa,  Rusia, dan Caina serta negara dikawasan Asia lainnya. Negara yang memiliki alutsista pertahanan keamanan yang kuat pasti akan mengancam geo politik dan geo ekonomi negara yang memiliki kekayaan berlimpah tetapi lemah pada alutsista pertahanan negara. 

Presiden Prabowo Subyanto, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Agus Subyanto dan Kapolri Listyo Sigit perlu belajar dari perang Rusia vs Ukaraina dan yang terkini Amerika Serikat-Israel vs Iran, semua negara tersebut perang sudah menggunakan teknologi canggih bukan lagi konvensional seperti perang pada abad 14 masehi. Perang modern bukan lagi soal Tentara/Polisi yang punya otot kuat, tulang kuat, jago bela diri (karate/silat) atau punya ajimat (kekuatan supranatural). Tetapi perang modern sudah bicara tentang frekuensi, sinyal, algoritma, dan Artificial Intelligence (AI).

Jagan lagi suru Tentara dan Polisi berkebun tanam padi, jagung, sayur, urus koperasi, urus dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) dll; urusan menanam itu kewenangan Menteri Pertanian, ahli pertanian dan para petani profesional bukan kewenangan Tentara dan Polisi. Stop narik-narik Tentara dan Polisi dalam politik praktis. Jangan lagi Tentara dan Polisi aktif diberikan jabatan sipil, kembalikan mereka ke barak (ke kesatuan) untuk menjadi Tentara dan Polisi teknokrat, profesional yang ahli dibidang militer dan perang baik di alutsista persenjataan maupun ahli strategi pertahanan keamanan negara.

Saatnya Tentara dan Polisi kembali ke barak untuk riset. Jangan sampai Tentara dan Polisi ahli nanam padi, jagung, ahli urus koperasi dan MBG tapi gaptek teknologi, soal rudal dan drone berpeluru kendali. Miris, saat negara lain sudah kirim ribuan drone balistik dan rudal antar benua, drone kita baru sebatas ambil gambar ditempat kerja. Kekayaan alam yang berlimpah tanpa kita memiliki alutsista pertahanan keamanan yang kuat pasti kita menjadi ancaman serius bagi negara-negara kuat. 

Panglima TNI dan Kapolri perlu melakukan perubahan persyaratan masuk TNI/Polri. Syarat utama masuk TNI/Polri jangan mengutamakan tinggi badan, fisik yang berotot, lari berapa ribu kilometer dan mata tidak boleh minus tetapi harus mengutamakan calon TNI/Polri yang memiliki otak jenius menguasai Fisika, Kimia dan Matematika agar dapat membuat dan mengendalikan drone dan rudal jarak jauh. Yang lulus Tentara dan Polisi benar-benar memiliki otak jenius bukan karena pake orang dalam (loncat pagar) atau suap menyuap dalam proses seleksi. 

Apabila terjadi dalam proses seleksi Tentara dan Polisi? Maka dipastikan kedaualtan negara terancam karena negara memiliki aparat yang lemah intelektual dan integritas. Pada akhirnya negara melahirkan aparatur yang bermental rusak dan bobrok etika, akhirnya menjadi bekengin bos narkoba, judi, perampokan dan kriminalitas (kejahatan lainnya). Rekrutmen Tentara dan Polisi selain ada pengawasan internal harus juga ada pengawasan eksternal, masyarakat sipil (sivil socaity) harus dilibatkan untuk mengawasi proses seleksi mulai dari tahapan awal sampai akhir. Walaupun sekarang sudah diberlakukan tetapi perlu diperkuat kewenangannya. Hal ini bertujuan agar yang lulus seleksi Tentara dan Polisi benar-benar lulus murni karena berkualitas, memiliki nilai terbaik, berintegritas, beretika dan jujur serta siap membangun alutsista pertahanan keamanan yang canggih dan membela tanah air kapan saja dibutuhkan. 

Literasi (baca) kita juga masih rendah, oleh karena itu mari kita tingkatkan literasi jangan hanya jago debat dimedsos dan TV, tapi baca kita rendah. Kosep baca (Iqra) ini Allah SWT,  perintahkan dalam Al-Quran, manusia  pertama yang diperintahkan Allah untuk membaca adalah Nabi Muhammad SAW,  melalui malikat Jibril namun budaya baca kita saat ini masih rendah.  Kita suka berdebat di medsos dan TV tetapi membaca kita rendah, padahal melalui membaca kita akan banyak mengetahui dan menambah ilmu pengetahuan. Bangsa-bangsa di dunia maju dan berperadaban tinggi karena mereka banyak membaca, melalui membaca akan meningkatkan intelektualitas manusia. Filosof Yunani seperti Plato dan Aristoteles menjadi ilmuan terkenal di dunia karena melalui membaca bukan berdebat kusir.

Kunci kemenangan perang modern jika Tentara dan Polisi kita memiliki SDM berkualitas dan berintegritas. Indonesia negara terbesar ke-15 di dunia dan kaya akan sumberdaya alam kalau kita tidak berbenah menciptakan alutsista pertahanan keamanan yang canggih, kita hanya menjadi penonton kecanggihan alutsista pertahanan negara lain dan akan menjadi ancaman serius bagi negara-negara yang memiliki ekonomi dan alutsista pertahanan keamanan yang kuat. 

Tidak ada komentar